Tlagaswara.com - Halo, ini Aji.
Belakangan ini saya sering melihat orang ngomongin 1 in 8 Billion, sebuah game simulasi kehidupan yang sedang ramai dibahas di media sosial. Karena penasaran, saya akhirnya memutuskan untuk mencobanya sendiri.
Konsepnya sederhana, tetapi langsung membuat saya tertarik.
Dalam game ini, kita tidak bisa memilih di mana dilahirkan, siapa orang tua kita, seperti apa kondisi ekonomi keluarga, atau bagaimana jalan hidup yang akan dijalani. Semua ditentukan secara acak berdasarkan data statistik dunia.
Setelah menekan tombol mulai, saya pun memulai kehidupan baru yang sama sekali berbeda dari kehidupan saya saat ini.
Lahir di Afrika Selatan
Dalam simulasi tersebut, saya lahir pada Januari 2026 sebagai seorang anak laki-laki di Durban, Afrika Selatan.
Saya berasal dari keluarga Muslim keturunan Indian South African. Kondisi ekonomi keluarga tergolong cukup baik, berada di kelompok 20 hingga 40 persen teratas. Saya juga memiliki empat kakak yang tumbuh bersama saya.
Meski hanya sebuah simulasi, detail seperti latar keluarga, agama, dan kondisi ekonomi membuat perjalanan hidup terasa lebih nyata dibanding yang saya bayangkan.
Pada usia lima tahun, game ini mengingatkan bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dewasa. Saya berhasil melewati masa kanak-kanak dengan selamat, sesuatu yang dalam statistik dunia ternyata tidak selalu bisa dianggap remeh.
Tumbuh di Tengah Kehilangan
Memasuki usia 10 tahun, saya kehilangan nenek dari pihak ayah yang meninggal akibat stroke pada usia 80 tahun.
Namun kehilangan terbesar datang beberapa tahun kemudian.
Pada usia 14 tahun, ibu saya meninggal dunia pada usia 46 tahun akibat tindak pembunuhan. Momen ini menjadi salah satu peristiwa paling mengejutkan selama saya memainkan game tersebut.
Saya sempat berhenti sejenak saat membaca bagian itu. Rasanya aneh ketika sebuah simulasi mampu membuat kita membayangkan betapa beratnya kehilangan orang tua di usia yang masih sangat muda.
Meski begitu, kehidupan terus berjalan. Pada usia 15 tahun saya berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah atas.
Memulai Hidup Sendiri
Saat berusia 23 tahun, nenek dari pihak ibu meninggal dunia akibat stroke pada usia 87 tahun.
Dua tahun kemudian saya menghadapi masalah keuangan. Keluarga dan kerabat mengumpulkan dana sebesar 345 dolar AS untuk membantu mengurangi utang yang saya miliki. Sayangnya, setelah bantuan tersebut diberikan, masih ada utang lebih dari 7.500 dolar AS yang harus dilunasi.
Bagian ini cukup menarik karena game tidak selalu memberikan cerita sukses. Kadang hidup berjalan biasa saja, penuh tantangan kecil yang terasa sangat realistis.
Perlahan keadaan membaik. Saya menikah dengan Zainab dan membangun keluarga sendiri.
Pada usia 28 tahun, Zainab sempat mengambil cuti kerja untuk merawat putri kami, Fariha.
Kemudian pada usia 31 tahun, karier saya berkembang hingga berhasil menjadi seorang non-commissioned officer atau bintara.
Perjalanan itu akhirnya membawa saya pada salah satu pencapaian terbesar dalam hidup.
Saat berusia 43 tahun, saya berhasil membeli rumah sendiri.
Kehidupan yang Terus Bergerak
Tidak semua momen penting dalam hidup berkaitan dengan pekerjaan atau keuangan.
Pada usia 48 tahun, saya menghadiri pernikahan Khadija. Lucunya, saya begitu sibuk menyambut para tamu hingga kehilangan suara.
Lalu pada usia 51 tahun, saya mulai lebih serius menjaga kesehatan dengan rutin minum obat, mengurangi konsumsi garam, dan berjalan kaki setiap hari.
Semakin bertambah usia, semakin banyak pula perpisahan yang harus dihadapi.
Sahabat lama bernama Danish meninggal saat saya berusia 55 tahun. Beberapa tahun kemudian Sipho menyusul. Lalu Busisiwe juga meninggal ketika saya berusia 68 tahun.
Meskipun hanya rangkaian teks dalam sebuah game, bagian ini terasa cukup menyentuh. Kehidupan ternyata tidak hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang orang-orang yang hadir dan kemudian pergi.
Akhir Sebuah Perjalanan
Pada usia 71 tahun, hidup saya dalam simulasi tersebut berakhir akibat cedera yang disebabkan oleh terjatuh.
Tidak ada akhir yang dramatis. Tidak ada pencapaian luar biasa menjelang kematian. Hanya sebuah kecelakaan yang menutup perjalanan hidup seseorang.
Justru karena itulah kisah ini terasa realistis.
Menariknya, menurut data dalam game, hanya sekitar 35 persen laki-laki yang lahir di Afrika Selatan pada tahun yang sama mampu hidup lebih lama dari usia tersebut.
Dengan kata lain, meski hidup saya dipenuhi kehilangan dan tantangan, saya tetap hidup lebih lama dibanding banyak orang lainnya.
Bahkan usia 71 tahun tercatat sekitar 8,2 tahun lebih panjang dibandingkan harapan hidup rata-rata pria yang lahir di Afrika Selatan.
Yang Membuat 1 in 8 Billion Menarik
Setelah menyelesaikan simulasi ini, saya merasa daya tarik utama 1 in 8 Billion bukanlah aspek permainannya.
Yang membuatnya menarik adalah cara game ini mengingatkan bahwa kehidupan kita saat ini sebenarnya dibentuk oleh banyak hal yang tidak pernah kita pilih sendiri.
Kita tidak memilih negara tempat lahir. Kita tidak memilih keluarga tempat kita dibesarkan. Kita juga tidak memilih berbagai peristiwa yang datang dalam hidup.
Namun di tengah semua hal yang tidak bisa dikendalikan itu, kita tetap memiliki pilihan tentang bagaimana menjalani kehidupan yang ada di depan kita.
Mungkin itulah alasan mengapa simulasi ini terasa membekas setelah selesai dimainkan.
Dalam satu sesi permainan, saya menjalani kehidupan sebagai seseorang yang lahir di Durban, kehilangan ibunya di usia muda, membangun keluarga, membeli rumah, kehilangan sahabat satu per satu, lalu meninggal pada usia 71 tahun.
Dan semuanya berawal dari satu klik tombol "Be born again".





