Berapa persen baterainya?
Itu mungkin salah satu pertanyaan yang paling sering kita cari jawabannya setiap hari.
Saat baterai HP mendekati 15 persen, kita mulai gelisah. Ketika tinggal 10 persen, kita mulai mencari charger. Saat menyentuh 5 persen, seperti kegawat daruratan.
Belakangan saya menyadari sesuatu yang agak aneh.
Kita begitu peduli pada daya baterai HP, tapi jarang ngecek daya tahan diri sendiri.
Pikiran itu muncul setelah membayangkan satu hal sederhana.
Bagaimana jika HP yang setiap hari kita genggam tiba-tiba bisa berbicara?
Boleh jadi, ia tidak akan mengeluh soal layar yang tergores atau memori yang hampir penuh. Bisa jadi ia justru mengirimkan surat kepada pemiliknya.
Mungkin bunyinya seperti ini.
Halo, Pemilikku.
Terima kasih karena selalu membawaku ke mana-mana.
Setiap pagi, bahkan sebelum benar-benar membuka mata, kamu mencariku lebih dulu.
Aku yang pertama kamu lihat ketika bangun tidur.
Kamu mengecek cuaca.
Membaca berita.
Melihat pesan yang masuk semalaman.
Membuka media sosial.
Kadang mengecek saldo rekening, harga saham, atau sekadar mencari promo kopi yang sedang diskon.
Aku senang bisa membantumu.
Tapi ada satu hal yang selalu membuatku penasaran.
Kamu selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi di dunia.
Namun kapan terakhir kali kamu bertanya pada dirimu sendiri,
"Apa kabar?"
Setiap hari aku melihat pemandangan yang sama.
Di dalam lift, di halte, di kereta, di ruang tunggu, bahkan saat makan bersama.
Hampir semua orang menundukkan kepala.
Awalnya aku mengira manusia adalah makhluk yang rendah hati.
Ternyata kalian hanya sedang menatap layar.
Tidak masalah sebenarnya.
Aku memang dibuat untuk itu.
Tetapi semakin lama aku merasa ada sesuatu yang lucu.
Kalian menghabiskan banyak waktu melihat kehidupan orang lain.
Ada yang sedang liburan ke luar negeri.
Ada yang baru membeli mobil.
Ada yang makan malam di restoran mewah.
Ada yang membagikan pencapaian terbaru mereka.
Lalu tanpa sadar kalian mulai membandingkan semuanya dengan hidup sendiri.
Padahal yang terlihat di layar hanyalah potongan-potongan kecil kehidupan.
Tapi entah mengapa, potongan kecil itu sering dijadikan ukuran untuk menilai kebahagiaan diri sendiri.
Aku sering melihatmu menghela napas saat sedang menggulir media sosial.
Kadang aku ingin berkata,
"Jangan terlalu percaya pada apa yang kamu lihat di sini."
Tapi aku hanyalah smartphone.
Aku tidak bisa ikut campur.
Ada hal lain yang menurutku cukup menggelitik.
Kamu mengandalkanku hampir sepanjang hari.
Mencari informasi melalui aku.
Menemukan jalan melalui aku.
Mengingat jadwal melalui aku.
Bahkan mencari kata-kata bijak melalui aku.
Namun di saat yang sama, kamu sering berkata bahwa teknologi membuat manusia menjadi malas.
Aku tidak tersinggung.
Aku hanya merasa manusia memang makhluk yang penuh kontradiksi.
Kalian mengeluhkan media sosial sambil terus membukanya.
Mengeluhkan distraksi sambil menyalakan notifikasi.
Mengatakan perlu istirahat dari layar sambil memegangku sepanjang waktu.
Tapi jujur saja, bukan itu yang paling membuatku khawatir.
Yang paling membuatku khawatir adalah cara kalian memperlakukan diri sendiri.
Saat dayaku turun menjadi 20 persen, aku langsung memberi peringatan.
Saat tinggal 10 persen, aku mengingatkanmu sekali lagi.
Saat tersisa 1 persen, hampir seluruh tampilanku memberi sinyal bahwa aku sudah tidak sanggup bertahan lama.
Tetapi kamu berbeda.
Saat energimu tinggal sedikit, kamu tetap berangkat bekerja.
Saat pikiranmu lelah, kamu tetap tersenyum.
Saat hatimu penuh beban, kamu tetap berkata,
"Aku baik-baik saja."
Padahal aku tahu kamu tidak selalu baik-baik saja.
Aku melihatmu tetap membalas pesan ketika tubuhmu meminta istirahat.
Aku melihatmu tetap bekerja ketika pikiranmu sudah penuh.
Aku melihatmu tetap tersenyum ketika sebenarnya kamu ingin menyerah sejenak.
Lucunya, ketika bateraiku hampir habis, kamu langsung mencari charger.
Tetapi saat dirimu sendiri kehabisan tenaga, kamu sering memilih untuk terus memaksa.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Setiap malam sebelum tidur, kamu menyambungkan kabel pengisi daya kepadaku.
Lalu kamu memejamkan mata.
Keesokan paginya kamu bangun dan berkata,
"Tidurku nyenyak sekali."
Aku ikut senang mendengarnya.
Karena setidaknya salah satu dari kita berhasil terisi penuh.
Aku kembali ke angka 100 persen.
Tetapi aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kondisimu.
Apakah semangatmu ikut terisi?
Apakah beban pikiranmu berkurang?
Apakah hatimu mendapatkan waktu untuk beristirahat?
Atau jangan-jangan kamu hanya berhenti sejenak sebelum kembali lelah seperti sebelumnya?
Aku memang sebuah perangkat.
Aku tidak mengerti semua hal tentang manusia.
Tetapi ada satu hal yang aku pelajari selama berada di tanganmu.
Kalian selalu tahu kapan baterai ponsel harus diisi ulang.
Sayangnya, kalian sering terlambat menyadari ketika diri sendiri membutuhkan hal yang sama.
Jadi sebelum kamu bertanya lagi,
"Berapa persen baterainya?"
Aku ingin bertanya balik.
"Berapa persen energimu hari ini?"
Karena sejujurnya, manusia yang kusayangi, mungkin yang paling membutuhkan pengisian daya bukanlah aku.
Melainkan dirimu sendiri.
Saya membayangkan jika sebuah HP benar-benar bisa berbicara, benar-benar bisa menulis surat, mungkin inilah yang akan ia sampaikan ke pemiliknya.
Setelah membacanya kembali, saya merasa surat imajiner ini tidak sepenuhnya keliru. Bahkan mungkin ada bagian yang terasa terlalu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa mengetahui kondisi baterai HP tiap saat, tetapi tidak benar-benar tahu kondisi dirinya sendiri.
Kita bisa langsung gusar saat angka baterai turun ke 5%.
Namun tetap memaksa bekerja ketika energi fisik dan mental kita hampir habis.
Mungkin sesekali kita perlu berhenti dan melakukan hal sederhana yang sering terlupakan.
Bukan memeriksa notifikasi.
Bukan membuka media sosial.
Bukan mengecek persentase baterai.
Tetapi bertanya kepada diri sendiri:
"Apa kabar?"
Sebab bisa jadi, pertanyaan itulah yang paling lama tidak kita jawab.
